AUDIENSI RRP KE 42 PERGURUAN TINGGI

Komisi Pemilihan Umum Kota Tegal Rabu (13/11/19) melaksanakan Audiensi Rumah Pintar Pemilu (RPP) kepada mahasiswa di Fakultas Hukum Universitas Pancasakti Tegal. Kegiatan ini terlaksana atas kerjasama KPU Kota Tegal, Universitas Pancasakti Tegal dan Mahkamah Konstitusi Republik Indonesia dan dipancarluaskan melalui Video Coference ke 42 Perguruan Tinggi di seluruh Indonesia.

Kegiatan sosialisasi pendidikan pemilih itu diiukuti 50 mahasiswa Fakultas HUkum, dengan narasumber tunggal dari Divisi Sosialisasi, Pendidikan Pemilih dan Partisipasi Masyarakat serta SDM, KPU Kota Tegal, Thomas Budiono. Durasi sosialisasi selama  90 menit itu dipancarluaskan ke 42 Perguruan Tinggi di seluruh Indonesia. Antara lain Universitas Indonesia di Jakarta, Universitas Gajahmada di Jogyakarta, Universitas Diponegoro di Semarang, Universitas Brawijaya di Malang, Universitas Airlangga di Surabaya, Universitas Udayana di Bali, Universitas Borneo Tarakan, Universitas Sumatera Utara, Universitas Syiah Kuala Aceh, Universitas Papua dan Universitas Cendrawasih.

Dalam penjelasan Thomas Budiono menegaskan bahwa Audiensi RPP merupakan usaha agar pelaksanaan pemilihan umum di masa yang akan datang akan lebih baik. Semakin banyak pemilih yang paham proses pemilu dan demokrasi dapat meringankan kerja penyelenggara pemilu. Selain itu kerjasama ii untuk meningkatkan partispasi pemilih dan meningkatkan kualitas pemilih.

“KPU mengharapkan kepada semua komponen masyarakat, termasuk mahasiswa bisa menjadi voluntir atau sukarelawan demokrasi yang bisa mengedukasi masyarakat di lingkungannya masing-masing”, tegas Thomas Budiono.

Hal itu semakin penting karena berdasar pengalaman Pemilu Serentak Tahun 2019 lalu, selama tahapan pemilu banyak diwarnai beredarnya berita bohong atau hoak, provokasi intens isu anti Sara dan maraknya praktik-praktik politik uang.

Dalam segmen diskusi bahwa mahasiswa yang menegaskan bahwa mereka adalah komunitas masyarakat yang menolak keras adanya politik uang. Politik uang justru akan menyengsarakan masyarakat. Sebab ujung dari praktik politik uang akan bermuara pada tindakan koruptif yang justru akan menyengsarakan masyarakat.

Dari kalangan mahasiswa banyak yang masukan yang patut dicatat dan digarisbawahi. Antara lain soal volume kerja petugas KPPS yang melebihi batas daya tahan tubuh manusia. Buktinya banyak petugas KPPS yang jatuh sakit, keguguran bahwa ada yang meninggal dunia. Mereka berharap pemilu didesain sedemikian rupa dengan agar tidak memakan korban jiwa.

Soal golput ? “Menyalurkan hak suara adalah hak masyarakat. Tetapi sikap apatis dengan tidak menggunakan hak suara alias golput, bukanlah solusi terbaik. Yang pasti, mencoblos itu bukan hanya memilih calon pemimpin yang terbaik, tetapi memilih itu juga mencegah calon pemimpin yang jelek atau buruk agar tidak menjadi pemimpin di negeri ini”, tandas Thomas Budiono.

Selama paska Pemilu Serentak Tahun 2019 lalu, KPU Kota Tegal telah melaksanakan 24 kegiatan yang terkait Fasilitasi dan Audiensi RPP. Sasarannya beragam. Ada kelompok mahasiswa, anak-anak SMA dan SMK, siswa siswa SMP serta anak-anak pra pemilih yang mendapatkan materi demokrasi, toleransi dan sikap saling menghargai.

widiya

Subbag Teknis Pemilu dan Hupmas