PARTISIPASI TERENDAH MENJADI PERHATIAN KPU

Du48IMG20150529110953a kelurahan dengan tingkat partisipasi terendah dalam Pemilu Legislatif dan Pemilu Presiden Tahun 2014 lalu di Kota Tegal, menjadi fokus perhatian khusus bagi Komisi Pemilihan Umum Kota Tegal. Dua kelurahan itu adalah Kelurahan Cabawan dan Kelurahan Krandon di Kecamatan Margadana.

Oleh KPU Kota Tegal – sesuai dengan surat KPU RI No 155/KPU/IV/2015 tentang Pedoman Riset Partisipasi dalam Pemilu, dua kelurahan itu akan dijadikan sasaran penelitian atau riset. Penelitian dan riset tingkat partisipasi masyarakat dalam pemilu itu mengambil sasaran di kelurahan dengan tingkat partisipasi terendah 33% (Kelurahan Cabawan) dan 36% (Kelurahan Krandon).

Yang ditunjuk KPU Kota Tegal sebagai pelaksana penelitian adalah DR Yayat Hidayat Amir, peneliti senior di Universitas Pancasakti Tegal. Untuk kepentingan pelaksanaan riset dan pengambilan data di lapangan, kemarin DR. Yayat Hidayat Amir mempresentasikan rencananya di hadapan komisioner, Sekretaris KPU dan para Kasubag.

Dalam penelitian itu mengambil judul : Perilaku Pemilih Di Kalangan Masyarakat Kota Tegal itu, DR Yayat Hidayat Amir membahas soal penentuan sampling, baik sampling TPS dan sampling respondennya. Disepakati dari dua kelurahan akan diambil responden di 5 TPS yang ada di dua kelurahan. Yakni 2 TPS di Kelurahan Cabawan dan 3 TPS di Kelurahan Krandon.

Hasil penelitian itu akan digunakan KPU Kota Tegal sebagai pertimbangan dan masukan untuk menentukan kebijakan lanjutan terkait dalam meningkatkan partisipasi masyarakat dalam pemilu mendatang.

Sebelumnya KPU Kota Tegal secara internal telah melakukan pembahasan mengenai persoalan-persoalan yang potensial untuk dijadikan tema riset. Tema potensial itu antara lain soal money politics, perilaku memilih,  kehadiran dan ketidakhadiran pemilih di TPS, serta tingkat melek politik warga.

Dari data yang dimiliki KPU Kota Tegal, Kecamatan Margadana selalu memiliki tingkat partisipasi masyarakat paling rendah dalam setiap pelaksanaan pemilu, baik Pilwalkot, Pilgub, Pileg, maupun Pilpres. Banyak yang menilai, hal tersebut dikarenakan sebagian besar warga Kecamatan Margadana bekerja sebagai pekerja urban sebagai pedagang warung tegal di luar kota.

Ketika hari H pemungutan suara, sebagaian pengusaha warteg itu tidak kembali ke kampung halamannya. Ada beberapa kemungkinan, pertama mereka memberika suaranya di di tempat mereka bekerja atau mereka tidak menyalurkan aspirasi pilihannya dengan tidak datang ke TPS.

Namun demikian, menurut penjelasan DR. Yayat, riset ini akan mencoba melihat bagaimana perilaku warga Kecamatan Margadana, baik yang bekerja sebagai pedagang warteg ataupun yang lainnya, dalam memandang pemilu dan hal-hal yang terkait dengannya.

Sesuai jadwal yang telah disusun,  kegiatan riset yang direncanakan berlangsung dari bulan Juni – Juli 2015 ini dapat berjalan lancar dan sesuai jadwal. Namun apakah tujuan khusus riset untuk menemukan akar masalah atas persoalan partisipasi dalam pemilu dapat tercapai ?. Kita tunggu saja. (Wdy – KPU Kota Tegal)

widiya

Subbag Teknis Pemilu dan Hupmas